BudayaEntertainmentHiburanMadiun RayaPonorogo

Komunitas Seni Reog Regol Wengker Sampung Gelar Halal Bihalal yang Dipadati Warga

Lawupos.com – Ratusan warga di Kecamatan Sampung memadati lapangan Desa Jenangan, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo pada Minggu (4/6/2023) untuk menyaksikan pagelaran seni Reog. Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Seni Reog Regol Wengker Sampung dalam rangka Halal Bihalal.

Dalam pagelaran ini, terdapat 21 dadak merak, puluhan jathil, dan bujang ganong yang tampil. Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, serta Wakil Bupati Lisdyarita, Forkopimka Sampung, Sesepuh Reog Ponorogo, tokoh masyarakat, kepala desa se-Kecamatan Sampung, dan ratusan seniman Reog Ponorogo yang tergabung dalam Komunitas Seni Reog Regol Wengker Sampung juga hadir dalam acara tersebut.

Partisipasi tahunan ini melibatkan 16 grup Reog dari Kecamatan Sampung. Riyanto, S.I.P., selaku Ketua Yayasan Reog Kecamatan Sampung, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung upaya menjadikan Seni Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

“Diharapkan Seni Reog di Ponorogo dapat diakui dan diterima oleh UNESCO,” harap Riyanto dengan penuh harapan.

Bupati Sugiri Sancoko memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini yang bertujuan menyatukan visi dan misi untuk menjadikan Reog Ponorogo sebagai bagian dari UNESCO. Ia juga memohon maaf kepada warga Ponorogo jika selama kepemimpinannya belum mampu memenuhi harapan mereka.

“Saat ini, Reog akan menjadi terkenal di dunia,” ucap Bupati Ponorogo sambil menunjuk ke arah lokasi Monumen Reog Sampung.

Pagelaran seni Reog yang diadakan dalam rangka Halal Bihalal ini merupakan bentuk nyata semangat kebersamaan dan upaya menjadikan Seni Reog Ponorogo sebagai salah satu warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO. Warga Sampung berharap upaya tersebut akan membuahkan hasil positif untuk memperkaya kebudayaan Indonesia dan meningkatkan kebanggaan masyarakat Ponorogo. (Fjr/Red)

Related Articles

2 Comments

  1. Ping-balik: Festival Methik Padi
  2. Ping-balik: Tradisi Methik
Back to top button